Polsek Ketungau Tengah bersama TNI, personel BKO Brimob dan masyarakat melakukan ground check, pemadaman serta pendinginan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB setelah adanya informasi titik panas yang terpantau melalui aplikasi Lancang Kuning dan Sipongi. Petugas kemudian berkoordinasi dengan unsur terkait untuk melakukan pengecekan langsung sekaligus penanganan di lokasi.
Dari hasil pengecekan, terdapat lima titik lahan terbakar yang tersebar di Desa Wana Bhakti dan Desa Wirayuda. Di Desa Wana Bhakti terdapat empat titik dengan luas masing-masing sekitar 0,7 hektare, 0,7 hektare, 0,8 hektare dan 0,7 hektare. Sementara di Desa Wirayuda terdapat satu titik dengan luas sekitar 1,2 hektare yang berada di sekitar perkebunan PT KSA5.
Dengan demikian, total lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 4,1 hektare. Kondisi lahan berupa tanah mineral dengan sedikit gambut dan ditumbuhi pepohonan serta semak-semak. Konsentrasi penduduk di sekitar lokasi relatif jarang.
Pemadaman melibatkan enam personel Polsek Ketungau Tengah, lima personel Koramil Ketungau Tengah, empat personel BKO Brimob serta masyarakat. Berdasarkan hasil pengecekan, lahan tersebut sebelumnya telah dilakukan pemadaman, namun api kembali muncul di sejumlah bagian.
Petugas bersama unsur terkait kemudian melakukan pemadaman dan pendinginan pada titik-titik yang masih mengeluarkan asap. Secara umum api berhasil dipadamkan, meskipun masih ditemukan kepulan asap di beberapa bagian lahan yang menjadi perhatian petugas.
Selain melakukan penanganan, personel juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu meluasnya Karhutla. Khusus di wilayah Desa Wana Bhakti, kondisi tanpa jaringan internet menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan komunikasi di lapangan.
Polsek Ketungau Tengah bersama unsur terkait akan terus melakukan pemantauan dan pendinginan terhadap lokasi yang telah terbakar guna mengantisipasi munculnya kembali titik api, terutama di tengah kondisi musim kemarau.